Erupsi Barujari Meneror Penerbangan Australia ke Bali

Rabu, 11 November 2015 | 14:28
Share this post :
Indopos.co.id– Delapan hari sudah, erupsi Gunung Barujari –si bisul yang tumbuh di kaldera Gunung Rinjani Lombok itu—resmi meneror pariwisata Bali, Lombok dan sekitarnya. Perusahaan penerbangan Australia, yang mengangkut wisman dari dan ke Aussie macet total, tidak berani ambil risiko terbang mendekati pusat semburan debu vulkanik itu. Padahal, bagi Bali and beyond, Benua Kanguru itu adalah tambang terbesar, wisman paling loyal, paling fanatik dan penyumbang devisa paling nyata. Mendengar laporan Tim Crisis Center Kemenpar, bahwa ada 16 penerbangan dari Bali ke Australia dibatalkan, sejak gunung Barujari aktif 3 November lalu, Menpar Arief Yahya langsung klepek-klepek. Mau pakai jurus marketing apapun, kalau alam berbicara, tak ada yang bisa menolak, bahkan menunda setelah peak season usai, pasca Desember 2015. “Kami hanya bisa lakukan yang terbaik, fasilitasi mereka yang terjebak di Bali-Lombok, agar tetap happy dalam tour-nya ke Bali, Lombok dan sekitarnya,” aku Menpar Arief Yahya dengan nada pelan. Ke-16 airline milik perusahaan yang berpusat di Australia itu adalah Jet Star, Jet Star Asia, dan Virgin. Semuanya tujuan ke Australia. Mereka memang menerapkan standar keamanan yang sangat tinggi. Tidak boleh coba-coba atau ambil risiko sekecil apapun, kalau sudah menyangkut safety. Menpar juga setuju dengan prinsip itu, karena nyawa manusia jauh lebih berharga dibandingkan apapun. “Kami hormati regulasi di udara,” sebutnya sambil menghela nafas panjang. Sejatinya, peraih Marketeer of The Year 2013 di Markplus Conference 2014 itu “tak bernyali” untuk sekedar bertanya perkembangan erupsi Gunung yang berada di ketinggian 2.296-2.376 meter dari permukaan laut itu. Dia tidak sanggup mendengar cancellation sejumlah penerbangan seperti ini. Lama dia terdiam memandangi whatsup group Wonderful Indonesia, membaca laporan Sesmen Ukus Kuswara soal up dating Tim Crisis Center itu. Hanya jempol kanannya saja yang menggeser scroll di touch screen hand phone-nya. Tatapan matanya terlihat kosong, setengah bengong, setengah galau. Itu bisa dimengerti. Bali adalah 40% dari jumlah wisman ke Indonesia. Setelah itu baru Jakarta 30%, dan Batam-Bintan 20%. Kalau Bali yang terganggu, bagi Kemenpar, itu sudah bencana nasional, sudah siaga satu, karena di titik vital itulah target capaian bakal terganggu. “Dulu Gunung Raung di Jember erupsi pas pada peak season, pas liburan anak sekolah pertengahan tahun. Ini Gunung Barujari juga persis menjelang peak season. Dan, sejumlah tour and travel sudah mulai cancel dan pindah ke lokasi lain. Ini bener-bener ujian,” sebut pria campuran Banyuwangi-Banten itu, lagi-lagi dengan mimic tanpa ekspresi, seperti orang habis opname. Bandara International Lombok dan Selaparang Lombok masih off hingga 11 November 2015, berdasarkan Notam B-2754/15 dan C-3550/15. Hingga 10 November saja, sudah ada 28 pesawat baik domestic maupun internasional yang cancel di Bandara International Lombok. Kapasitasnya lebih dari 4000 penumpang. “Anda bisa bayangkan, promosi untuk mendapatkan turis itu mahal, capek, tidak bisa cepat, tidak seperti jualan tempe, sekarang dijajakan, saat ini juga laku dan dibayar tunai. Pariwisata itu ada proses, ada timing, ada banyak handicap yang harus dilalui. Ini sudah deal, sudah diplanning, terpaksa batal semua,” keluh Arief Yahya. Apapun yang terjadi, bukan menjadi alasan untuk hand up. Menpar Arief Yahya pun mengapresiasi kinerja tim Crisis Center, yang langsung bergerak, begitu tanda-tanda bencana mengintai. Lalu melaporkan kondisi actual di lapangan, untuk diambil langkah-langkah strategis dan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait. Seperti Angkasa Pura I, PHRI, ASITA, Dishub Bali, Disparta Bali, BPBD NTB, BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Garuda Indonesia, beberapa penerbangan yang terkait, pelabuhan di Lombok dan Bali, semua bergerak cepat. Juga “Terima kasih Tim Crisis Center,” ucap Arief Yahya. Arief Yahya tidak lupa mengapresiasi tim STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Bali, yang menyiapkan 2 bus stand by di Bandara Nguran Rai Bali. Sewaktu-waktu dibutuhkan untuk transportasi wisatawan dari bandara-hotel, terminal Ubung atau pelabuhan Tanjung Benoa, bisa cepat. “Lakukan yang terbaik buat wisatawan yang terjebak atau terganggu penerbangannya karena erupsi itu. Sekecil apapun dukungan seperti ini, akan sangat bermanfaat di masa depan. Dalam benak wisatawan, mereka tidak akan melupakan jasa baik, sosial dan tindakan emergency seperti ini,” tutur Mantan Dirut PT Telkom itu. Kesal? Capek? Sedih? “Iya, banget. Tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang tak berujung pangkal. Kita percaya pada alam, kita percaya akan kekuatan yang di Sana. Niat baik selalu akan menemukan jalannya untuk kebaikan semua pihak, termasuk alam,” kata Arief serius. Dia juga meminta para pelaku bisnis pariwisata di Bali, Lombok, Banyuwangi dan sekitarnya yang terimbas oleh erupsi Gunung Barujari itu agar bersabar dan tetap optimis. Bencana itu seperti jailangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Yang bisa dilakukan hanyalah berdoa, agar semua segera pulih dan bisa normal kembali. “Semoga Badai Erupsi itu Segera Berlalu.” (*)
Kemenpar 300 x 250
e-Permormance
LPSE
PPID
JDIHN