Kemenpar Siap Kawal Promosi Kopi Lintas Sektoral

Selasa, 24 November 2015 | 14:03
Share this post :
Indopos.co.id- Kementerian Pariwisata mendukung kegiatan Konvensi Kopi, Teh dan Coklat Indonesia 2015. Kegiatan yang baru kali pertama digelar tersebut diperuntukkan untuk membuat branding produk kopi, teh, dan Coklat hasil pertanian petani Indonesia lebih memiliki nilai tambah. Konvensi digelar selama tiga hari, dan dibuka oleh Esty Reko Astuti, Deputi  Pengembangan Pemasaran Pariwisata Indonesia, Kemenpar di Gedung SMESCO, Selasa (24/11). "Kegiatan ini untuk mengangkat ketiga hasil bumi nusantara.  Kalau diberi kesempatan memimpin pengembangan kopi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata nasional kami siap," kata Esty usai membuka  Konvensi Kopi, Teh, dan Coklat Indonesia 2015 di Gedung SMESCO, Selasa (24/11). Lebih lanjut Esty mengatakan, pengembangan kepariwasataan nasional perlu keterlibatan semua pihak dan lintas sektora. Khusus kegiatan kali ini, menurut Esty, sisi penyelenggaraan, konvensi ini lebih mengarah  kepada bagian MICE ( Meeting, Incentive, Convention, Exibition) . Namun, ketiga hasil bumi tersebut juga terkait erat dengan budaya masyarakat, kuliner dan agrowisata. Dijelaskannya juga bahwa  acara ini diharapkan dapat menjadi etalase yang  menjanjikan, bagi pengusaha lokal dan investor asing. Kegiatan kali ini melibatkan tiga kementerian, meliputi Kementerian Pertanian, Perindustrian, dan Pariwisata. Lebih lanjut Esty menambahkan, dengan adanya acara ini, secara tidak langsung akan memperkenalkan tradisi minum kopi dan teh ala Indonesia. Sehingga akan banyak produk lokal hasil alam Indonesia yang akan dinikmati oleh masyarakatnya dan dapat dipatenkan sebagai kegiatan agro-tourism. "Ini merupakan acara positif, selain itu Indonesia memiliki budaya minum kopi dan teh, di mana setiap kota punya keunikan cara penyajian masing-masing," ujarnya. Sementara itu, Ketua Penyelenggara Kegiatan, Kuntari Sapta Nirwanda mengatakan keunikan kegiatan kali ini adalah memberikan edukasi kepada para petani agar bisa mendapatkan hasil lebih dari hasil produknya. "Selama ini petani kita sangat dirugikan. Kita perlu mencontoh hal positif dari negara lain seperti yang dilakukan oleh Jepang dan China ada tradisi minum teh produk yang dipatenkan oleh lokalnya. Kegiatan minum teh dan kopi yang dipatenkan tersebut bisa menjadi bagian dari kegiataagro-tourism," kata Kuntari. Dia juga menambahkan, kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan kepada petani yang hanya menikmati sedikit dari hasil lelahnya. Karena pengetahuan yang minim, dan tidak memiliki akses permodalan untuk menciptakan nilai tambah. Sehingga, Kuntari dan tim nya menggagas untuk memperkenalkan produksi Indonesia, seperti kopi, teh dan cokelat ke masyarakatnya dan ke kancah global. Di mana produk tersebut sebenarnya tidak kalah bersaing dan memiliki nilai jual tinggi.  "Selama ini petani hanya bisa menjual hasil panen dengan harga yang sangat rendah. Setelah diolah oleh pihak pembeli, atau diekspor ke luar dikemas dengan bagus, dikirim lagi ke dalam negeri dan dinikmati kembali oleh petani dengan harga jual yang tinggi. Saya pikir sangat ironis," ujarnya. "Padahal, kita bisa membuat kemasan, bisa membuat nilai tambah. Yang penting ada edukasi, dan petani memiliki kemauan, itu saja," tutup Kuntari. (nel)  
Kemenpar 300 x 250
e-Permormance
LPSE
PPID
JDIHN