Di Podium Xinhua Aspac, Tawarkan Wonderful Indonesia

Selasa, 15 Desember 2015 | 14:45
Share this post :
Indopos.co.id- Dari ballrrom lantai 5 Island Shangri-La Hotel Hongkong, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengawali presentasinya dengan memutar video Wonderful Indonesia versi Tiongkok. Speechnya hanya 10 menit, separohnya untuk memutar video pesona pantai, pasir, pulau, langit, bawah laut, terumbu karang dan diving menerobos jutaan ikan di objek maritime Indonesia Timur. Sekitar 100 peserta 2nd ASEAN Development Forum yang diprakarsai Kantor Berita Xinhua Asia Pacific (Aspac) itupun tertegun, diam seribu bahasa. Mimik mulutnya membentuk huruf “O”, sipit matanya tak berkedip, bening memandang screen yang memantulkan video dan berujung dengan logo “garuda” Wonderful Indonesia itu. Tayangan bertema wisata bahari dan seni budaya itu betul-betul menyita pikiran para professional, awak media dan nara sumber yang menunggu giliran speech. Terutama saat penghobi diving berenang dalam jarak dekat, dengan raksasa paus bertutul, yang panjangnya 2-3 kali dari ukuran divernya itu. Seolah jinak-jinak panda, terkesan friendly, lucu, tidak menyerang, tidak lari menjauh, tidak panik. Suasana Raja Ampat yang di-shoot dari atas juga membuat “wow”, laut dengan berbagai layer warna dari biru tua, lebih muda, sampai ke putih pesisirnya. Dikelilingi pulau-pulau kecil, seolah menjadi pelindung dari ombak liar dari laut lepas. Ada juga lambaian dua sayap ikan pari di bawah laut, warna warni coral, beragam biota laut, yang itu semua masih berada di habitat aslinya, tidak di akuarium besar seperti Sea World. Nature Indonesia menjadi high light. Di video itu juga ditampilkan kesenian Reog Ponorogo, tarian dan gamelan Bali, candi Borobudur dan Prambanan, seni membatik tradisional, sampai seorang model mengayunkan tee off dengan wood stick berbandul besar di pukulan pertama. “Silakan datang dan saksikan sendiri Wonderful Indonesia, yang saat ini masih 9 flights dari Hongkong ke Denpasar, dan Jakarta,” ujung speech Arief Yahya sambil menyebut bebas Visa, buat turis Tiongkok, termasuk Hongkong dan Macao. Hanya Menpar RI, Dr Ir Arief Yahya MSc dan Dr Ha Van Sieu, Vice Chairman of Vientam National Administration of Tourism saja yang tanpa basa-basi berpromosi pariwisata. Mantan Wakil Perdana Menteri Thailand, Phinij Jarusombat tidak langsung berpromosi wisata, tetapi bicara soal pertukaran kebudayaan sebagai alat komunikasi manusia. “Tayangan video Wonderful Indonesia itu isinya semua yang disukai oleh wisatawan asal Tiongkok, Hongkong dan Macao,” jelas Arief Yahya. Setelah presentasi itu, Arief Yahya diwawancara secara marathon oleh beberapa media di sana. Xinhua TV dan CCTV, jaringan TV news di Tiongkok yang juga punya edisi bahasa Inggris dan di Indonesia bisa diakses melalui Pay TV (TV berbayar) itu menanyakan soal akses menuju Indonesia? Nama Bali dan Indonesia sangat dikenal di Hongkong dan China Mainland, tetapi aksesnya terbatas. “Kami sudah melakukan deregulasi, menyederhanakan regulasi yang kaku untuk masuk ke Indonesia sebagai turis,” jelas Arief Yahya. Tiga hal konkret yang sudah dilakukan, pertama Kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) untuk Turis dan MICE –meeting, incentive, conference and expo, selama 30 hari. Jadi, orang Hongkong, Macau, China bisa langsung terbang, sudah bisa berwisata di Indonesia. Tidak perlu menunggu jadinya visa, tidak perlu bayar USD 35, dan tidak perlu mengurus Visa on Arrival. “Sudah 90 total negara, yang sebelumnya hanya 15 negara saja, jadi kami semakin lebar membuka pintu wisatwan masuk,” kata Arief Yahya. Kedua, pemerintah RI sudah mencabut aturan CAIT di yacht atau perahu pesiar, sehingga untuk izin memasuki perairan Indonesia tidak harus 3 minggu, cukup 1 jam selesai. Mereka cukup menggunakan prosedur kepabean biasa, dokumen dalam satu layanan Customs (barang), Immigration (orang), Quarantine (hewan dan tanamanm), dan Port (pelabuhan). “Di seluruh dunia, prosdur ini yang dipakai,” jelas Arief Yahya. Ketiga, ada pencabutan Cabotage untuk Cruise atau kapal pesiar. Cruise itu ukurannya besar, menampung banyak orang, bisa berminggu-minggu di tengah laut, membawa para wisatawan bahari dari satu kota ke kota lai di pesisir pantai. Kini kapal berbendera asing, ---tidak harus bendera Indonesia—sudah bisa merapat di lima pelabuhan besar di Indonesia. Mereka bisa menaikkan dan menurunkan penumpang. “Selama ini hanya yang berbendera Indonesia saja yang bisa, sehingga wisata bahari di tanah air ini tidak berkembang,” tuturnya. Terkait dengan Hongkong? “Hongkong itu sangat strategis bagi pariwisata Indonesia. Pertama, ada 60,8 juta wisatawan dalam setahun di Hongkong, 60%-nya berasal dari China Mainland. Kedua, Hongkong menjadi kota hub, yang dekat dengan Macau, yang juga didatangi 35 juta wisatawan dan sama, terbesar dari China daratan. Kalau mau menjaring di kolam yang banyak ikannya? Ya di Hongkong ini salah satunya, selain Singapore dan Dubai,” kata dia. Kedua, lanjut Menpar, terus mencari lebih banyak direct flight Hongkong-Jakarta, Hongkong Denpasar, dan semua yang memungkinkan lebih banyak penerbangan dari Kota Sejuta Pencakar Langit itu. “Kita itu baru 37% direct flight menuju Indonesia dari berbagai originasi. Sisanya, 63% masih transit, bisa dari Singapore, KL, Hongkong, Dubai dan Doha. Aksesibilitas kita masih terendah, dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia yang rata-rata 80% direct flight. Ini persoalan teknis yang sedang kami kejar di Hongkong,” jelas Arief Yahya. Ketiga, Menpar terus menggelorakan Jalur Samudera Laksamana Cheng Ho, yang sudah diluncurkan 13 Desember lalu di Aceh. Sedikitnya 10 kota yang disinggahi Admiral beragama Islam dan dikenal dengan nama Haji Mahmud Shams atau dalam istilah Tiongkok Ma Sanbao itu. “Saya sudah tiga kali bertemu Chairman CNTA-China National Tourism Administration, Mr Li Jinzao. Kami sama-sama sepakat mengangkat jalur sutera, Silk Road dan jalur samudera Admiral Zheng-he (istilah China, red) ke Laut China Selatan sampai Indonesia,” ungkap Menpar. Muhibah bahari terbesar dalam sejarah pelayaran dunia di abad 14-15 itu Cheng Ho membawa kapal panjang 138 meter, lebar 56 meter, dengan jumlah 62 buah ditambah 225 kapal berukuran lebih kecil. Awak kapalnya menurut sejarah ada 27.550, dan singgah di Aceh, Batam, Babel, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya, sampai ke Bali. Konon masih ada banyak pesisir yang dikunjungi Laksamana Cheng Ho, tetapi yang ini sudah pasti ada artefaknya. “Jalur Cheng Ho ini menjadi content marketing kami di Hongkong, untuk menggarap pasar Tiongkok. Istilahnya menangkap potensi wisman Tiongkok dari tempat mereka berwisata, Hongkong dan Macau satu paket,” tuturnya.(bersambung)
Kemenpar 300 x 250
e-Permormance
LPSE
PPID
JDIHN