Temui Hongkong Tourism Board, Genjot Cruise

Selasa, 15 Desember 2015 | 14:57
Share this post :
Indopos.co.id- Angka 60,8 juta wisman masuk ke Hongkong setiap tahun, itu bukan angka sembarangan, bukan angka kecil. Rata-rata per bulan 5 juta wisman, sedang total penduduknya, termasuk ekspatriat itu hanya 7,2 juta. Jadi, rata-rata 40% orang yang ada di Hongkong setiap harinya, adalah wisman. Bandingkan dengan Singapore? Jumlah wisman setahun 15 juta, per bulan seputaran 1,25 juta kepala. Penduduknya 5 juta, sudah termasuk 3,5 juta Singaporean dan 1,5 juta ekspatriat. Maka komposisi turis asing setiap harinya hanya 25%, atau satu dari empat orang yang ditemui di Singapore adalah wisatawan mancanegara. Hongkong lebih banyak, hampir dua kali lipat, sama-sama commonwealth, kota buatan Inggris saat masih berjaya di kawasan Asia Pacific dan Asia Tenggara. Menpar Arief Yahya bertemu khusus dengan Dr Peter K.N. Lam, Chairman Hongkong Tourism Board berserta timnya, Becky IP, Deputy Executive Director, dan Vivian Li, PR Manager, di Island Shangri-La. Pengembangan destinasi dan industri pariwisata justru menjadi topik perbincangan paling seru, dan menciptakan banyak opportunity dalam diskusi itu. Dibandingkan dengan urusan Marketing atau Pemasaran, SDM dan Kelembagaan. Sejak 22 Februari 2013, Peter KN Lam yang lulusan Oregon University, US tahun 1987 itu diumumkan oleh Pemerintah Hongkong sebagai Chairman, menggantikan James Tan. Peter yang sejak 13 tahun disekolahkan ke Canada itu, adalah anak konglomerat tersohor di Hongkong, Lim Por-yen. Pemilik Lai Sun Group, perusahaan tekstil pemasok uniform pakaian tentara terbesar di Afrika dan punya share holder Asia Television (ATV) Hongkong. Sesama orang berlatar belakang bisnis, tentu diskusi dengan Menpar Arief Yahya semakin efektif. Ada dua poin yang bisa dikembangkan dalam kerjasama Kemenpar dengan Hongkong Tourism Board (BKTB) itu. “Pertama, pengembangan wisata cruise atau kapal pesiar ke berbagai titik labuh di kepulauan Indonesia. Ini terkait dengan pencabutan cabotage, sehingga kapal berbendera asing boleh memasuki perairan Indonesia, boleh menaikkan dan menurunkan penumpang di 5 pelabuhan besar, termasuk Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya, Makasar,” kata Arief Yahya. Begitu cerita cabotage, Peter Lam langsung connect. Hongkong adalah salah satu pusat cruise terbesar di Asia Pacific. Ada Star Cruise, InCruising, dan banyak lagi yang bersandar di Harbour Cruise, Hongkong Utara. “Kita bisa joint promotion, nanti di-connect-kan dengan cruise line Hongkong-Filipina-Indonesia, atau membuat jalur baru, pulau-pulau di Indonesia,” jelas Peter. Dalam cruise itu, pasti ada saatnya docking, turun kapal, ke sebuah kota, eksplorasi objek-objek wisata di sana, setelah puas baru kembali ke kapal lagi dan berlayar ke tempat yang baru lagi. Dengan 5 kota di Indonesia yang siap dengan port-nya itu, sebenarnya sudah bisa dibuat program. “Cruise itu harus dipromosikan, dan pasar orang China di Hongkong sangat besar. Jika promosinya bagus, pasti bisa menjaring lebih banyak turis,” lanjut Peter. Kedua, Peter Lam juga akan membantu Menpar Arief Yahya untuk menaikkan jumlah direct flight ke Bali, Jakarta, Surabaya. Terutama dengan Cathay Pacific, maskapai penerbangan milik Hongkong yang saat ini masih sibuk melayani penerbangan dari China Mainland. “Saya akan berkomunikasi ke Cathay Pacific untuk membantu Pak Menteri, memperbanyak connectivity ke berbagai kota di Indonesia,” jelas Peter. Menpar Arief Yahya menyebut, saat ini hanya 9 flight pergi pulang Indonesia-Hongkong. Terlalu kecil, dibandingkan dengan potensi wisata yang ada. Originasi Hongkong sangat kuat, karena ada 5 juta wisatawan dan 7 juta warga Hongkong yang masuk kategori income per capita besar. Destinasi Indonesia juga tidak aka nada habisnya, untuk dieksplorasi selama satu tahun. “Apalagi orang Hongkong suka diving, suka pemandangan di bawah laut? Dan wisatawan asal Tiongkok lebih suka pantai, laut dan langit yang jernih?” sambung Arief Yahya. Lagi-lagi Menpar mendeskripsikan keindahan laut dan objek para diver menyelam di bawah kedalaman. Bagi para diver Indonesia sangat terkenal, 70% coral dunia ada di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Spot itu termasuk golden triangle, dengan Raja Ampat dan Bunaken-Lembeh. Surganya fotografer macro, objek yang kecil-kecil, silakan ke Lembeh Straigt, Selat Lembeh di Bitung. Bagi yang suka green barrier, coral berwarna hijau dan menyerupai Great Barrier Reef di lepas pantai Queensland timur Australia. “Buat pasar Hongkong, aneka water sport seperti diving, snorkeling dan segala permainan di air laut, itu sangat disukai. Jarak pandang di dalam air juga bisa sampai 10 meter. Stok materi promosi kita banyak dan world class semua, kalau sudah urusan nature, laut, pantai, bawah laut, potensi dan apa yang kita punyai, sudah luar biasa,” jelas Arief Yahya. Sedang buat pasar Tiongkok, lanjut dia, lebih ke pantai, pasir putih, dan bermain air jernih di pantai. Potensinya? Lebih dahsyat lagi. Dari Bali, Lombok, Sumbawa sampai ke Labuan Bajo NTT, naik ke Wakatobi, sampai Derawan, pantainya cantik-cantik. Di Bintan, dan Belitung juga pasir putih. “Kami akan segera koordinasi untuk mengembangkan cruise. Kami sepakat untuk joint promotion, dengan destinasi Indonesia,” kata dia, yang menjelaskan cruise itu bisa berkapasitas 3000 orang dalam satu kapal. Harus diakui, karena selama ini menganut aturan cabotage, maka tidak banyak cruise yang bisa berlabuh ke Indonesia. Juga tidak industry tour and travel yang menjual paket cruise ke Indonesia. Kalau pencabutan CAIT untuk yacht, perahu pesiar yang berukuran kecil, kapasitas antara 5-20 orang, mereka sudah mencoba di Aceh, 13 Desember 2015 lalu, bersamaan dengan puncak Perayaan Hari Nusantara di Pelabuhan Lampulo, dan sekaligus Peluncuran Jalur Samudera Laksamana Cheng Ho.(bersambung)
Kemenpar 300 x 250
e-Permormance
LPSE
PPID
JDIHN