Pengamat : Kemenpar Lebih Baik, Jonan Belum Memperlihatkan Pelayanan yang Ciamik

Senin, 28 Desember 2015 | 16:38
Share this post :
Indopos.co.id-Isu desakan resuffle memang menjadi isu yang hebat akhir-akhir ini. Banyak kalangan yang menilai negatif kinerja kabinet Presiden Joko Widodo di bidang ekonomi karena banyaknya data yang melorot di mata para pengamat. Namun ada satu menteri yang dinilai positif berhasil karena kinerjanya. Dia adalah Menteri Pariwisata Arief Yahya. Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia, Berly Martawardaya mengatakan, kinerja Kementerian Pariwisata lebih baik lantaran adanya peningkatan wisatawan asing. "Ini karena adanya layanan bebas visa yang diterapkan. Target 20 juta wisatawan nantinya bukan hal yang mudah. Karena kondisi pelemahan ekonomi global, jadi Menpar masih punya tiugas yang berat," ujarnya kepada wartawan belum lama ini. Berly mengatakan semua menjadi membaik karena dengan data. Dia menjelaskan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada September 2015 mencapai 869.179 orang atau tumbuh sebesar 9,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 791.296 orang. Namun, Berly tetap berharap Kementerian Pariwisata harus bekerja lebih ekstra dalam mengejar target 20 juta wisatawan asing hingga 2019. Sayangnnya, Berly menilai kinerja menteri lainnya tidak maksimal. Misalnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, dinilai belum bisa menunjukan pelayanan terbaik dalam mengatur transportasi umum. "Sehingga kemacetan pada saat libur Natal kemarin tidak dapat diantisipasi," ujarnya.  Bukan itu saja, masih kata Berly, sejumlah kecelakaan pesawat udara yang terjadi di sepanjang tahun juga menjadi salah satu sorotan publik dalam melihat kinerja Kementerian Perhubungan. Pasca terjadinya kecelakaan pesawat Air Asia 8501 dari Surabaya ke Singapura, Kementerian Perhubungan menerapkan kebijakan tarif batas bawah minimal 40 persen dari tarif batas atas. Berly menilai beleid ini malah bertentangan dengan semangat pasar yang menerapkan harga kompetitif. "Justru aturan ini menunjukkan pemerintah tidak menerapkan persaingan yang sehat," ujarnya. Menurut Berly, Menteri yang memiliki kinerja terendah adalah Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Berly menilai Amran gagal dalam menjaga pasokan beras sehingga mesti impor. "Data produksi beras juga harus dibenahi karena tidak valid," kata dia. Menyoroti Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman yang digawangi oleh Rizal Ramli, Berly tidak melihat kinerja yang signifikan. Menurut Berly, seharusnya Rizal perlu menyesuaikan diri ketika sudah berada dalam kabinet sehingga bisa mendukung sejumlah program pemerintah. "Karena dia kan bukan pengamat lagi. Harus bisa menyesuaikan dan fokus bekerja dalam mengurangi dwelling time," ujar dia. Meski belum menunjukan kinerja yang maksimal, Pengamat Ekonomi Enny Sri Hartati menilai Rizal Ramli menjadi menteri yang populer di antara menteri lain. "Karena mendapat banyak apresiasi dari masyarakat," kata Enny. Enny justru menyoroti kerja Kementerian Badan Usaha Milik Negara yang dinilainya  belum cemerlang. "Seharusnya BUMN menjadi agent of development tapi belum ada terobosan yang dilakukan, " kata dia. Beberapa sektor strategis yang dikuasai oleh negera, ujar Enny, belum memberikan manfaat kepada masyarakat. Enny mencontohkan di tengah pelemahan ekonomi saat ini, harga bahan pokok malah cenderung naik. "Kehadiran Perum Bulog sebagai manajemen logistik dan pengendalian harga beras belum menonjol," ujarnya.(lis)
Kemenpar 300 x 250
e-Permormance
LPSE
PPID
JDIHN