Pengamat: Pendirian Pabrik Milik BUMN Ditentang, Swasta Kok Dibiarkan

Senin, 20 Maret 2017 | 21:19
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Sikap berbeda yang diperlihatkan sebagian warga Sikep, Kendeng, Pati, Jawa Tengah terhadap dua putusan pengadilan dipertanyakan.

Di satu sisi, warga menentang habis-habisan pembangunan pabrik Semen Indonesia (SI) di Rembang. Padahal perusahaan tersebut merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Massa bahkan terus menentang, hingga berunjuk rasa di depan Istana Negara, mengecor kaki dengan semen.

Padahal izin baru dikeluarkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dengan memerhatikan putusan kasasi Mahkamah Agung sebelumnya.

"Sementara ketika ada putusan lain terhadap pabrik semen swasta di Pati, manakala kasasi warga ditolak Mahkamah Agung (MA), tidak ada perlawanan yang sengit. Seperti mereka menolak BUMN PT SI, yang berlokasi di Rembang," ujar Pengamat Sosial Djuni Thamrin di Jakarta, Senin (20/3).

Menurut Djuni, dengan tidak adanya perlawanan yang berarti dari warga, maka pabrik semen swasta akan berdiri di Pati dan dipastikan warga Samin akan terpengaruh langsung. 

"Musuh jelas di depan mata, hanya dihadapi setengah hati dan senyap tanpa ada pemberitaan apa pun. Sementara semen Rembang yang berada di luar Pati dan tidak berada dalam kawasan Kendeng, dilawan habis-habisan," tutur Djuni.

Pengajar di sejumlah universitas bergelar PhD ini mengutarakan keheranannya. Karena perusahaan swasta dan asing yang bakal masuk ke Pati, belum terbukti memiliki pengalaman yang baik mengelola pabrik semen dengan konsep lingkungan yang baik.

"Sangat berbeda dengan PT SI sebagai induk semen Rembang, sudah terbukti teruji dapat mengelola produksi dan lingkungannya secara berkelanjutan. Bahkan PT SI mendapat penghargaan sebagai perusahaan hijau dari organisasi international dan dalam negeri," ucap Djuni.

Djuni menduga, kuatnya penolakan terhadap PT SI, sementara pada pabrik semen swasta nyaris tak terdengar, kemungkinan karena kuatnya modal asing yang menyatu dengan modal swasta nasional.

"Jadi (kemungkinan mereka, red) ingin BUMN digembosi dengan berbagai cara. Caranya, sebagian dari modal asing memberi hibah pada gerakan lingkungan, agar melakukan pendisiplinan pada industri milik negara yang secara idiologi berpotensi memberikan dampak lingkungan," pungkas Djuni. (JPG)

Editor : Ali Rahman
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%