Akses Internet Faktor Penting Berkembangnya Industri Kreatif

Kamis, 20 April 2017 | 23:30
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi. Teknopedia
INDOPOS.CO.ID - Teknologi informasi, seperti jaringan internet berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Pemerintah sendiri terus mendorong pelaku industri kreatif untuk terus berkembang. 
 
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) baru-baru ini menyebutkan, jika mengacu data 2016, industri kreatif menyumbang sekitar Rp800 triliun atau 8 persen dari total produk domestik bruto (PDB), dengan growth dari tahun ketahun mencapai 5 persen.
 
Hal itu diungkapkan, Fadjar Hutomo Deputi Akses Permodalan Bekraf baru-baru-baru ini di Jakarta. Selain menyumbang PDB nasional, Fadjar menuturkan industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja.
 
"Ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian utama di banyak negara, karena dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian," ucap Fadjar
 
Melihat potensi yang ada sehingga tidak mengherankan kalau Pemerintah terus mendorong startup untuk terus berkembang. Selain dengan memberikan wadah bagi pemain industri kreatif untung menuangkan ide-idenya. yang tidak kalah pentingnya adalah pemerataan internet.
 
"Harus diakui bahwa jaringan internet sangat berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Pemasaran sistem online memiliki jangkauan sangat luas dan dalam waktu singkat," jelas Fadjar.
 
Lebih lanjut dikatakan Fadjar, pemerataan akses internet menurutnya menjadi kewajiban Kominfo agar ekonomi yang berbasis digital kreatif ini dapat terus berkembang.
 
Fadjar menambahkan saat ini, ada 16 sub sektor yang akan terus berkembang selama 2015 - 2019, yakni seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, dan kuliner.
 
Namun sayangnya, akses internet di Indonesia belum tersedia merata ke seluruh wilayah khususnya di daerah pelosok. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 mengungkap bahwa  penetrasi internet mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.
 
Sedangkan sisanya adalah 20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera. 8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi. 7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan. 6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB. 3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua.
 
Kondisi geografis dan besarnya investasi yang dikeluarkan untuk membangun akses telekomunikasi di daerah menjadi alasan utama enggannya operator telekomunikasibuntuk menghadirkan layanannya di daerah pelosok.
 
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Hanafi Rais mengatakan bahwa layanan 4G LTE juga dibutuhkan oleh masyarakat di pedesaan yang memiliki potensi daerah seperti destinasi wisata dan potensi ekonomi agar semakin dikenal di dunia internasional. 
 
“Terlebih lagi wisatawan lokal maupun dunia saat ini tengah mencari tempat wisata yang tidak main stream. Saya kira  dengan menggunakan media internet 4G LTE hal tersebut bisa dilakukan,” terang Hanafi pada saat peresmian layanan 4G Telkomsel se Ibukota Kabupaten di NTT.
 
Dengan layanan 4G LTE masyarakat dapat merasakan pengalaman mobile digital lifestyle yang sesungguhnya khususnya pagi para pelaku usaha kecil (UKM) dapat mulai memanfaatkan teknologi telekomunikasi untuk meningkatkan daya saing serta meperluas jaringan marketingnya, selain itu  manfaat bagi pelanggan lainya untuk melakukan download, upload, ataupun sharing berbagai jenis konten dalam file besar seperti foto, video, games, aplikasi, dan lain sebagainya dengan jauh lebih baik.
 
Senada dengan ini, beberapa waktu lalu Brahima Sanou, International Telecommunication Union (ITU) Development Bureau di ajang ITU ICT Summit di Bali menyampaikan bahwa kondisi geografis seharusnya tidak menjadi halangan bagi swasta untuk membangun infrastruktur telekomunikasi.  "Jika pembangunan infrastruktur tidak segera diratakan bagaimana mungkin digital economy bisa terwujud," tegasnya. (sol)
Editor : Ali Rahman
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%