Kematian Johannes, KPK: Tak Pengaruhi Proses Hukum Korupsi e-KTP

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 13:41
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Kematian saksi kunci kasus mega korupsi e-KTP, Johannes Marliem dipastikan tidak mengganggu proses hukum yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

“Tetap jalan, tidak ada pengaruh (kematian Johannes, red), karena keterangannya sudah di-BAP,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah yang dihubungi INDOPOS, tadi malam.

Ia pun mengkonfirmasi kabar meninggalnya salah satu saksi kunci kasus e-KTP tersebut. Febri Diansyah membenarkan soal kematain Johannes Marliem. Namun, Febri mengatakan, KPK belum mendapat informasi secara rinci soal kematian Johannes karena peristiwa tersebut terjadi di Amerika Serikat.

"Bahwa benar yang bersangkutan Johannes Marliem sudah meninggal dunia," jelas Febri.

Sementara pengamat hukum Abdul Fickar Fajar juga berpendapat, kematian Marliem tidak akan mempengaruhi penuntutan terhadap para tersangka sepanjang keterangan Marliem telah tertulis dalam Berita Acara Penyidikan (BAP).

Abdul Fickar menyebutkan, dalam pasal 162 KUHP telah mengatur semuanya. Pertama, jika saksi setelah di BAP meninggal dunia, maka BAP akan dibacakan. Kedua, jika keterangan saksi di BAP sebelumnya di bawah sumpah, maka akan disamakan dengan keterangan saksi yang disumpah di depan pengadilan.

"Semuanya sudah diatur. Jadi, saya kira tidak akan menjadi masalah dalam hal ini," katanya.

Justru Ia menilai dengan kematian Marliem ini pasti akan menimbulkan spekulasi sebab-sebab kematiannya yang mau tidak mau akan dihubung-hubungkan dengan orang maupun terdakwa yang dirugikan atas keterangannnya.

"Saya kira hal itu wajar meskipun menurut saya itu belum tentu benar adanya," paparnya. Namun, yang terpenting saat ini adalah keterangan Marliem  telah menjadi bagian dari alat bukti yang menjadi dasar untuk membuktikan kesalahan terdakwa.

"Pastinya kan sekarang semua keterangan saksi (Marliem) bisa menjadi dasar untuk proses penydikan selanjutnya," tutupnya. (bir)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%