Mata Novel Baswedan Bisa Normal Kembali

Selasa, 12 September 2017 | 11:31
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Novel Baswedan

INDOPOS.CO.ID - Lima bulan pasca insiden penyiraman air keras yang terjadi pada Selasa (11/4), kondisi kesehatan penyidik KPK Novel Baswedan semakin baik. Namun, tidak demikian dengan perkembangan penanganan kasus tersebut. Sampai kemarin (11/9) aparat kepolisian belum mampu mengungkap dalang dibalik aksi teror terhadap Novel.

Berdasar informasi terakhir yang diterima oleh keluarga, perkembangan pemulihan mata kiri maupun mata kanan Novel terus membaik. "Hari ini (kemarin) ada pemeriksaan dokter lagi,” ungkap Taufik Baswedan. Kaka kandung penyidik KPK asal Semarang itu berharap kondisi Novel ke depan semakin baik. Sehingga dapat bertugas seperti sedia kala.

Selaras dengan keterangan yang disampaikan oleh Taufik, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak pun mendapat informasi bahwa pemulihan kedua mata Novel positif. Hasil pemeriksaan kemarin, penglihatan mata kanan Novel bisa kembali normal. Sedangkan perkembangan mata kiri pasca operasi pun dinyatakan bagus.

”Insya Allah tiga bulan ke depan Bang Novel akan melakukan operasi tahap kedua," ungkap Dahnil. Sayang, kabar baik tersebut tidak dibarengi progres signifikan dalam penanganan kasus yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya (PMJ) itu. Melihat kondisi tersebut, Dahnil menyampaikan bahwa dirinya semakin pesimitis terhadap itikad baik aparat kepolisian. 

Menurut Dahnil, persoalan yang membuat polisi belum mampu menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel bukan kesulitan teknis dalam penyidikan. "Tapi, diduga lebih karena masalah itikad baik kepolisian," imbuhnya. Persoalannya, sambung dia, polisi benar-bener punya niatan mengungkap kasus tersebut atau tidak.

Dahnil pun menyampaikan bahwa kasus yang membuat Novel harus menjalani perawatan di Singapura tersebut tidak ubahnya kasus lain yang mandek penanganannya. Menurut dia, polisi kerap kesulitan apabila menangani kasus yang diduga melibatkan orang besar. "Yang memiliki kekuasaan politik atau 'pemilik senjata'," terang pria asal Aceh Timur itu.

Karena itu, masih kata Dahnil, dia meminta Presiden Joko Widodo mendorong dan memantau langsung penanganan kasus tersebut lewat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). ”Di mana anggotanya adalah individu-individu yang kredibel dan independen,” jelas dia. Bila TGPF tidak kunjung dibentuk dia khawatir kasus Novel tenggelam layaknya kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung selesai.

Alumnus STIE Dahlan Jakarta itu pun berpendapat bahwa kesediaan atau ketidaksediaan presiden membentuk TGPF menjadi batu uji komitmen orang nomor satu di tanah air itu terhadap penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Apalagi melihat perkembangan kasus Novel yang tidak kunjung bertemu titik terang. Padahal penanganan kasus tersebut sudah lima bulan berjalan. (syn)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%