Sampah Ganggu Pariwisata

Usulkan Jadi Campuran Aspal

Selasa, 12 September 2017 | 17:04
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Masalah sampah menjadi salah satu program proriotas Kemenko Maritim. Bahkan, Menko Maritim Luhut Pandjaitan meminta secara khusus kepada duta besar dan perwakilan negara-negara di kawasan Nordik untuk membantu Indonesia menangani sampah.

Terlebih penelitian Jenna R Jambeck dari Jambeck Research Grup pada 2015 lalu, menyebutkan Indonesia menjadi negara penyumbang sampah terbesar ke dua setelah Tingkok. ”Sangat penting bagi kami untuk memperoleh pengalaman dan teknologi pengolahan sampah menjadi energi dalam perumusan kebijakan (pemerintah RI, Red),” ujar Menko Maritim dalam Konferensi Nasional ”Waste to Energy” di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (11/9).

Menurut Luhut, Indonesia dapat menerapkan serta berupaya serius dalam mengaplikasikan teknologi penanganan sampah (utamanya sampah plastik) menjadi energi listrik (waste to energy), seperti yang sudah dilakukan oleh negara-negara Nordik seperti Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia. Bila masalah sampah tidak segera ditangani, selain menganggu kesehatan, hal ini juga dapat juga dapat mengganggu pengembangan sektor pariwisata yang sekarang giat dilakukan oleh pemerintah.

”Karena kita khawatir destinasi wisata  akan menjadi masalah. Sekarang ini kalau kita lihat di Bali hampir dimana-mana ada sampah plastik. Jadi kita harus bekerjasama. Nah, kita ini terlalu banyak konferensi-konferensi seperti ini, kita harus action,” tegas Luhut.

Salah satu solusi konkret, lanjut dia, pemerintah membuat inovasi untuk mencampur sampah plastik dengan aspal. ”Kita buat campuran sampah plastik 10 persen dan aspal 90 persen,” katanya kepada peserta seminar.

Menurut Luhut, masalah sampah tidak bisa lagi ditangani setengah-setengah. Harus  gotong royong semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, kalangan pendidikan terutama ibu-ibu rumah tangga.  Secara khusus, dia  mengatakan bahwa ibu rumah tangga merupakan influencer terbesar dalam keluarga yang dapat mengubah perilaku buang sampah sembarangan menjadi lebih tertib. Pun dengan kebiasaan untuk memanfaatkan plastik secara boros.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno mengatakan, tujuan konferensi adalah untuk menyebarkan informasi dan pertukaran pengalaman tentang pengolahan sampah menjadi energi listrik. ”Kita ingin ada kerjasama teknis antara pemangku kepentingan di Indonesia dengan negara-negara Nordik dalam penanganan sampah baik dari sisi solid waste management secara umum atau pun sampah plastik di laut,” tuturnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa negara asing yang berminat investasi membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) atau pun investasi dalam pengelolaan sampah. Indonesia memiliki kapasitas pendanaan yang terbatas dalam pengelolaan sampah. Standar internasional dalam penanganan sampah adalah USD 15 per orang per tahun, sedangkan di Indonesia hanya sekitar USD 6 per orang per tahun. Hal ini menuntut inovasi dalam penanganan sampah dengan baik sehingga tidak terjadi kebocoran sampah dari darat ke laut melalui sungai.

Kini selain ingin meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah padat, pemerintah juga ingin mengatasi krisis energi listrik dengan memanfaatkan sampah tersebut. Lebih lanjut diapun menambahkan bahwa pemerintah menargetkan pada tahun 2025 Indonesia dapat mengurangi sampah plastik sebanyak 70 persen. (nel)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%