Lestarikan Batik, Dorong Sertifikasi Pekerja

Selasa, 12 September 2017 | 17:10
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
WARISAN BUDAYA: Tampak para pembatik serius mengikuti sertifikasi yang diadakan oleh Kementerian Perindustian.

INDOPOS.CO.ID - Sejak dua tahun belakangan ini Kementerian Perindustrian mulai memberikan sertifikasi terhadap para pelaku perindustrian. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi para pekerja, pelaku bisnis, maupun meningkatkan kualitas batik setelah diberikan pengakuan oleh Unesco. Kemarin (11/9), Rumah Batik yang ada di Jalan Pal 4 Tebet dipercaya sebagai tempat sertifikasi, khusus bagi pebatik. Dalam sertifikasi itu setidaknya 50 orang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan gratis yang diberikan kementerian itu.

Direktur LSP Batik, Subagyo mengatakan, sertifikasi ini adalah untuk menegaskan bahwa SDM batik di Indonesia sudah kompeten. Selain itu, juga untuk menjaga pengakuan Unesco terhadap batik Indonesia. Sertifikasi ini adalah program kementerian yang diberikan secara gratis untuk para pekerja batik. Di luar dari bantuan kementerian ini untuk melakukan sertifikasi, pekerja batik harus membayar sebesar Rp 500 ribu untuk keperluan sertifikasi. Sehingga kesempatan sertifikasi ini harus dimanfaatkan oleh para pekerja batik. ”Untuk batik tulis Rp 500 ribu per orang, kalau batik pewarnaan lain lagi, karena zat warnanya lebih mahal. Kalau ini kan hanya malam nggak seberapa,” urainya.

Sertifikasi yang dilakukan pertama kalinya untuk DKI Jakarta dilakukan di Rumah Batik Palbatu ini adalah tahap kedua dari perogram kementerian dari 500 pekerja batik yang ditargetkan tersertifikasi. Sertifikat ini ini sendiri hanya berlaku 3 tahun dan harus re-sertifikasi. Dalam sertifikasi ini ada tiga hal yang diujinya, yakni keterampilan, pengetahuan dan sikap.

Dari pengalaman sertifikasi yang dilakukan oleh LSP Batik, diakui Subgyo banyak juga yang tidak kompeten, yakni sekira 30 persen dari jumlah yang sudah disertifikasi. Kebanyakan mereka tidak kompeten karena kurang dalam hal pengetahuan dan sikap. Sikap adalah tingkah laku pekerja saat membuat batik, dimana para pekerja harus fokus ketika bekerja. 

Ditegaskan Subagyo, batik adalah ketika ia melalui proses malam, dimana ada tiga jenis proses batik, yakni batik tulis, batik cap dan batik kombinasi. Di luar dari ini bukan merupakan batik melaikan hanya motif batik. ”Banyak orang bangga memakai batik, namun ia tidak tahu jika yang dipakai itu adalah batik melainkan hanya motif batik,” jelasnya.

Sementara Kasub Bidang Kerja sama pengembangan SDM Industri dan Pelatihan Kementerian Perindustrian, Esti Wulandari mengatakan, sertifikasi batik adalah hal yang baru sehingga ia ingin memasyarakatkatkan sertifikasi ini. Pemerintah juga berkomitmen dalam menjaga dan melestarikan budaya batik ini dengan memberikan anggaran. ”Sejak dua tahun kementerian menganggarkan untuk sertfikasi ini, salah satunya untuk pekerja batik,” urainya.

Dalam memberikan sertifikasi, Kementerian perindustrian memberikan kepercayaan pada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik untuk melakukan sertifikasi. Nantinya sertifikat kompetensi batik akan dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dikatakannya ia tidak hanya fokus pada batik saja, namun juga pada bidang lainnya yang dinaungi kementerian perindustrian.

Sertifikasi ini nantinya sangat bermanfaat untuk para pengusaha batik ataupun pekerja batik. Sebab untuk menjual batik hinga mancanegara akan menjadi pertanyaan terkait sertifikasi ini. Jika pekerja bersertifikat tentu bukan hanya pekerjanya saja yang mendapatkan keuntungan namun juga pemilik usaha batik. ”Apakah produk yang anda jual, yang Indonesia jual itu berkualitas atau tidak? Apakah orang-orang yang memproduksi itu kompeten atau tidak? Oh kita ada standarnya, kita bisa menunjukkan sertifikat yang kita miliki,” urainya.

Sertifikasi ini dikatakan Esti akan dilakukan secara bertahap, saat ini memang masih di fokuskan di daerah Jawa karena daerah tersebut adalah sentra batik. Namun secara perlahan sertifikasi ini akan dilakukan hingga ke daerah-daerah baik itu Sumatera, Kalimatan, Sulawesi dan daerah lainnya. Saat ini Kementerian perindustrian hanya memanfaatkan kepala-kepala dinas perindustrian yang ada di daerah untuk pro-aktif untuk mempromosikan program kementerian sehingga masyarakat di daerah juga bisa terlibat dalam program-program pemerintah. (kj)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%